Sahabat Puspita, pernahkah belakangan ini melihat perubahan perilaku anak? Anak yang biasanya banyak bercerita tiba-tiba menjadi lebih tertutup. Atau mungkin ia terlihat lebih mudah marah, cemas, dan tidak bersemangat, padahal di rumah tampaknya tidak terjadi apa-apa. Bisa jadi, ada sesuatu yang sedang dialami anak di luar pengawasan orang tua, termasuk cyberbullying pada anak di media sosial.
Anak dapat terlihat baik-baik saja di rumah, tetapi menghadapi masalah di dunia digital. Mereka mungkin menerima komentar menyakitkan, dikucilkan dari grup, dipermalukan melalui unggahan, bahkan terlibat sebagai pelaku perundungan.
Cyberbullying merupakan perundungan yang dilakukan melalui teknologi digital, seperti media sosial, platform percakapan, game online, atau ponsel. Bentuknya dapat berupa menyebarkan kebohongan, mengunggah foto yang mempermalukan, mengirim ancaman, hingga mengucilkan seseorang dari kelompok online.
Apa yang Membuat Anak Bisa Terlibat dalam Cyberbullying?
Cyberbullying tidak selalu terjadi karena anak memang ingin menyakiti orang lain. Ada berbagai faktor yang dapat mendorong anak terlibat dalam perundungan online, baik sebagai pelaku maupun korban.
1. Pengaruh teman dan lingkungan
Anak dan remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan pertemanannya. Keinginan untuk diterima kelompok dapat membuat anak mengikuti perilaku teman, termasuk ketika kelompok tersebut menganggap mengejek, mempermalukan, atau mengucilkan seseorang sebagai sesuatu yang biasa.
2. Pengalaman bullying dan emosi yang belum terkelola
Anak yang pernah menjadi korban atau menyaksikan bullying dapat membawa pengalaman tersebut ke ruang digital. Di sisi lain, rasa marah, frustrasi, cemburu, atau masalah pribadi yang tidak terselesaikan juga dapat dilampiaskan kepada orang lain melalui internet.
Karena itu, penting bagi orang tua membantu anak mengenali dan mengelola emosinya, bukan hanya meminta mereka untuk “jangan marah” atau “jangan membalas”.
3. Kurangnya pendampingan dan edukasi digital
Minimnya pendampingan membuat orang tua mungkin tidak mengetahui bagaimana anak menggunakan media sosial, dengan siapa mereka berinteraksi, atau konten seperti apa yang mereka konsumsi.
Anak juga belum tentu memahami bahwa komentar yang dianggapnya sebagai candaan dapat melukai orang lain atau menjadi bentuk perundungan.
4. Merasa aman di balik layar
Dunia digital dapat membuat seseorang merasa lebih berani karena tidak berhadapan langsung dengan korbannya. Anonimitas atau jarak di balik layar juga dapat membuat anak merasa tindakannya tidak akan memiliki konsekuensi.
Padahal, apa yang dilakukan di dunia maya tetap dapat berdampak nyata pada kondisi emosional orang lain.
Orang Tua Perlu Memperhatikan Aktivitas Digital Anak
Mendampingi anak di dunia digital bukan hanya tentang membatasi screen time atau memeriksa isi ponsel.
Orang tua juga perlu memahami apa yang anak lakukan ketika berada di dunia maya.
Dengan siapa mereka berinteraksi? Konten apa yang mereka lihat? Apakah mereka pernah menerima komentar yang membuat tidak nyaman? Apakah mereka pernah melihat teman dipermalukan di media sosial?
Yang tidak kalah penting, perhatikan perubahan perilaku anak.
Anak yang menjadi korban cyberbullying mungkin menunjukkan perubahan seperti lebih sering menarik diri, mudah cemas atau marah, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, sulit tidur, atau enggan menggunakan perangkat yang sebelumnya sering digunakan.
Namun, perubahan tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami cyberbullying. Jadikan perubahan perilaku sebagai alasan untuk mendekati dan mengajak anak berbicara, bukan langsung menuduh atau menginterogasi.
Sebab, pengawasan yang baik perlu berjalan bersama komunikasi.
Anak perlu merasa bahwa ketika mereka mengalami masalah di internet, orang tua adalah tempat yang aman untuk meminta bantuan.
Baca Juga: Muharram Day, Sinergi Ajak anak yatim dhuafa Bekasi mengenal Damkar
Bagaimana Mencegah Cyberbullying pada Anak dari Rumah?
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak lebih aman di dunia digital.
1. Kenali dunia digital anak
Tidak harus menjadi ahli teknologi. Orang tua dapat mulai dengan mengetahui media sosial, game online, atau platform yang digunakan anak serta memahami bagaimana mereka berinteraksi di dalamnya.
2. Bangun komunikasi tanpa menghakimi
Ajak anak berbicara tentang pengalaman mereka di dunia digital. Hindari langsung menyalahkan, memarahi, atau mengambil ponsel ketika anak bercerita tentang masalah yang mereka alami.
Jika anak takut dimarahi, mereka bisa memilih untuk diam ketika menghadapi cyberbullying.
3. Ajarkan etika bermedia sosial
Ajarkan anak bahwa apa yang dilakukan di dunia maya tetap memiliki dampak nyata. Biasakan mereka berpikir sebelum mengunggah, berkomentar, membagikan foto, atau meneruskan informasi tentang orang lain.
Ajarkan pula pentingnya menjaga privasi dan menghargai batasan orang lain.
4. Ajarkan anak apa yang harus dilakukan ketika mengalami cyberbullying
Jika anak menjadi korban, bantu mereka untuk tidak membalas dengan perundungan.
Simpan bukti seperti tangkapan layar, blokir akun pelaku jika diperlukan, gunakan fitur pelaporan pada platform, dan ceritakan kepada orang dewasa yang dipercaya.
Jika situasinya serius atau melibatkan ancaman, jangan menghadapi masalah tersebut sendirian. Orang tua dapat mencari bantuan dari pihak sekolah atau lembaga yang berwenang.
5. Ajarkan anak untuk tidak menjadi pelaku maupun penonton
Pencegahan cyberbullying bukan hanya tentang mengajarkan anak agar tidak menjadi korban.
Anak juga perlu memahami bahwa ikut menyebarkan unggahan yang mempermalukan seseorang, memberikan komentar yang menghina, atau sekadar ikut menertawakan korban dapat memperburuk perundungan.
Ajarkan anak untuk berani menghentikan, tidak ikut menyebarkan, dan mencari bantuan ketika melihat cyberbullying terjadi.
Pencegahan Cyberbullying Dimulai dari Rumah
Menjauhkan anak sepenuhnya dari media sosial bukan satu-satunya solusi. Anak tetap perlu belajar hidup dan berinteraksi di dunia digital dengan aman dan bijak.
Yang penting, mereka memiliki bekal untuk mengenali perundungan, menghargai orang lain, menjaga diri, mengelola emosi, dan tahu kapan harus meminta bantuan.
Cyberbullying pada anak mungkin terjadi di balik layar, tetapi perlindunganya dapat dimulai dari rumah. Mulailah dengan hadir, mendengarkan, dan memahami dunia digital anak. Jangan hanya menjadi pengawas gadget, tetapi jadilah tempat pertama yang mereka datangi ketika menghadapi masalah.
Karena itu, orang tua juga perlu terus belajar memahami tantangan pengasuhan di era digital.

Melalui Parenting Class 6.0 Sinergi Puspita, Ayah/Ibu diajak membahas bagaimana mendampingi anak agar lebih bijak dan aman di dunia digital, termasuk dalam menghadapi cyberbullying. Menghadirkan Hanum Swandarini, M.Psi., Psikolog untuk berbagi wawasan seputar pengasuhan anak di era digital.
Ayah/Ibu juga bisa mendapatkan kesempatan untuk bertanya langsung kepada psikolog dan belajar bersama orang tua lainnya.
Yuk, bekali diri sebagai orang tua agar anak tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab.
👉 Daftar Parenting Class 6.0 Sinergi Puspita dan mulai cegah cyberbullying dari rumah.