Sebanyak 63.711 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut ISPA pada balita tercatat di tujuh provinsi pada 18 Agustus–13 Oktober 2026. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ini menjadi perhatian di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran tersebut menghasilkan kabut asap yang mengancam kualitas udara.
Secara keseluruhan, Kemenkes mencatat 283.270 kasus ISPA pada periode tersebut.
Dari total kasus tersebut, sebanyak 219.559 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun. Sementara itu, 63.711 kasus lainnya dialami anak berusia di bawah lima tahun.
Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan pernapasan menjadi persoalan kesehatan yang perlu diperhatikan. Meski jumlah kasus pada balita lebih rendah dibandingkan kelompok usia di atas lima tahun, tetapi anak-anak tetap membutuhkan perhatian khusus karena lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.
Mengapa Balita Lebih Rentan terhadap Kabut Asap Karhutla?
Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan mengandung campuran gas serta partikel kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Salah satu jenis partikel yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa anak-anak lebih rentan terhadap dampak asap kebakaran karena paru-paru, sistem kekebalan tubuh, dan organ lainnya masih berkembang. Anak-anak juga menghirup lebih banyak udara dibandingkan ukuran tubuhnya, sehingga dapat menerima paparan polutan yang lebih besar secara relatif dibandingkan orang dewasa.
Kondisi tersebut membuat bayi dan balita perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Paparan kabut asap dapat memicu batuk, iritasi saluran pernapasan, hingga kesulitan bernapas. Pada anak yang memiliki riwayat asma atau gangguan pernapasan, asap juga dapat memperburuk gejala yang sudah ada.
Risiko kesehatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa tebal asap yang terlihat. Tingkat pencemaran udara, lamanya seseorang terpapar, serta kondisi kesehatan masing-masing anak turut memengaruhi dampaknya. Karena itu, udara yang tampak tidak terlalu berasap belum tentu bebas dari partikel pencemar.
Dampak ISPA pada Balita Perlu Diwaspadai
ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung dan tenggorokan hingga bagian saluran pernapasan yang lebih dalam. Gejalanya dapat berupa batuk, pilek, demam, dan sakit tenggorokan. Tingkat keparahannya berbeda-beda, bergantung pada penyebab infeksi dan kondisi kesehatan anak.
Di tengah paparan kabut asap, gangguan pernapasan pada balita menjadi hal yang perlu diperhatikan. Polusi udara dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk keluhan yang dialami anak. Orang tua perlu mengenali perubahan kondisi anak, terutama pada bayi yang belum mampu menyampaikan keluhannya. Batuk yang semakin parah, napas lebih cepat dari biasanya, munculnya bunyi mengi, atau berkurangnya asupan minum merupakan tanda yang perlu diperhatikan.
Perlindungan Kesehatan Anak di Tengah Karhutla
Besarnya jumlah kasus ISPA yang tercatat menjadi pengingat bahwa kesehatan masyarakat perlu menjadi perhatian selama karhutla berlangsung. Selain dampak langsung kebakaran, asap yang terbawa angin juga dapat memengaruhi kualitas udara di wilayah yang jauh dari titik api.
Bagi keluarga dengan bayi dan balita, informasi kualitas udara dapat menjadi pertimbangan sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Ketika udara tercemar, mengurangi paparan asap dan menjaga agar udara di dalam rumah tetap bersih dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan.
Perhatian juga perlu diberikan kepada anak-anak yang memiliki asma, penyakit paru-paru, atau kondisi kesehatan tertentu. Kelompok ini berpotensi mengalami gejala yang lebih berat ketika terpapar asap kebakaran.
Penanganan karhutla dan upaya menjaga kualitas udara menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan masyarakat. Sementara itu, pengenalan gejala sejak dini dan akses terhadap layanan kesehatan membantu memastikan anak memperoleh penanganan yang sesuai ketika mengalami gangguan pernapasan.
Dengan tercatatnya 63.711 kasus ISPA pada balita selama periode pelaporan, perlindungan terhadap kelompok usia ini perlu menjadi perhatian bersama. Balita masih berada dalam masa pertumbuhan dan belum mampu melindungi dirinya sendiri dari paparan lingkungan, sehingga kesehatan mereka membutuhkan perhatian dari keluarga, masyarakat, dan pihak terkait.