Waspada Doomscrolling! Buat Sulit Berhenti Scroll Berita Buruk

Sahabat Puspita, pernahkah kamu berniat membuka media sosial sebentar, tetapi justru menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca berita buruk? Mulai dari bencana alam, konflik, hingga berbagai kasus yang memicu kemarahan dan kekhawatiran, semuanya terasa sulit dilewatkan. Karena itu, kita perlu waspada doomscrolling, kebiasaan yang membuat kita terus mencari informasi negatif meskipun dampaknya bisa mengganggu suasana hati. Bukannya merasa lebih tenang setelah mendapat informasi, Sahabat Puspita malah ikut larut dalam kesedihan, kecemasan, atau rasa marah.

Apa Itu Doomscrolling?

Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi berita atau konten negatif secara terus-menerus melalui media sosial maupun platform digital lainnya. Istilah ini menggambarkan perilaku seseorang yang terus menggulir layar untuk mencari informasi buruk, meskipun konten tersebut membuatnya merasa cemas, sedih, atau tidak nyaman.

Fenomena ini sering muncul ketika terjadi peristiwa besar yang menyita perhatian publik, seperti bencana alam, konflik, atau krisis sosial. Awalnya, seseorang mungkin hanya ingin mengetahui perkembangan terbaru. Namun, satu berita dapat membawanya ke berita lain, kemudian berlanjut ke kolom komentar, unggahan terkait, hingga berbagai spekulasi yang belum tentu terverifikasi.

Ada beberapa alasan mengapa kebiasaan ini sulit dihentikan. Manusia secara alami cenderung memperhatikan informasi yang dianggap mengancam sebagai upaya untuk memahami bahaya di sekitarnya. Sementara itu, media sosial memudahkan pengguna menemukan konten serupa secara berulang.

Akibatnya, keinginan untuk terus mencari informasi dapat berubah menjadi kebiasaan yang menguras waktu dan emosi.

Dampak Doomscrolling bagi Kesehatan Mental dan Fisik

Mengikuti berita bukanlah hal yang buruk. Informasi membantu kita memahami keadaan dan mengambil keputusan dengan lebih baik. Namun, ketika konsumsi berita negatif berlangsung berlebihan, dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Meningkatkan kecemasan dan stres

Paparan berita yang berisi ancaman, kekerasan, atau bencana secara terus-menerus dapat membuat seseorang merasa seolah-olah bahaya selalu ada di sekitarnya. Pikiran menjadi sulit tenang, kekhawatiran meningkat, dan suasana hati lebih mudah terganggu.

  1. Mengganggu kualitas tidur

Doomscrolling kerap terjadi menjelang tidur ketika seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk membuka media sosial. Jika kebiasaan ini berlangsung hingga larut malam, waktu tidur pun berkurang.

  1. Menyebabkan kelelahan mental

Terlalu banyak menerima informasi dalam waktu singkat membuat otak harus terus memproses berbagai fakta, gambar, dan emosi. Akibatnya, seseorang bisa merasa lelah, sulit berkonsentrasi, serta kehilangan semangat untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

  1. Mengganggu produktivitas Sehari-hari

Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja, belajar, beristirahat, atau berinteraksi dengan orang terdekat justru habis untuk Scrooling. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat mengurangi keterlibatan seseorang dalam aktivitas nyata dan membuat keseimbangan hidup terganggu.

Cara Menghindari Doomscrolling Tanpa Ketinggalan Informasi

Sahabat Puspita tidak harus berhenti menggunakan media sosial untuk menghindari doomscrolling. Kuncinya adalah membangun kebiasaan mengakses informasi secara lebih sadar dan terukur.

  1. Tentukan batas waktu membaca berita

Gunakan fitur Screentime di aplikasi untuk mengatur durasi penggunaan media sosial. Sahabat Puspita juga bisa menentukan waktu khusus untuk membaca berita, misalnya pada pagi atau sore hari, agar tidak terus-menerus memeriksa pembaruan sepanjang hari.

  1. Pilih sumber informasi yang tepercaya

Utamakan portal berita dan akun resmi yang menyajikan informasi berdasarkan fakta. Kurangi mengikuti akun yang sering menyebarkan judul provokatif, konten sensasional, atau informasi yang belum terverifikasi. Dengan begitu, Sahabat Puspita tetap bisa mengikuti perkembangan situasi tanpa harus mengonsumsi konten negatif secara berlebihan.

  1. Berhenti ketika emosi mulai terganggu

Perhatikan perubahan perasaan saat membaca berita. Jika mulai merasa cemas, marah, sedih berlebihan, atau sulit berhenti menggulir layar, ambil jeda sejenak. Tidak semua informasi harus dibaca saat itu juga, terutama jika tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan.

  1. Hindari bermain ponsel menjelang tidur

Beri jeda dari penggunaan gadget sebelum tidur dan letakkan ponsel di luar jangkauan jika memungkinkan. 

  1. Alihkan perhatian ke aktivitas langsung

Saat muncul dorongan untuk terus membuka media sosial, cobalah berjalan kaki, mengerjakan hobi, berbincang dengan keluarga, atau melakukan aktivitas lain yang menyenangkan. Memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari arus informasi dapat membantu menjaga keseimbangan emosi.

Waspada Doomscrolling, Tetap Terinformasi Tanpa Kehilangan Ketenangan

Mengetahui perkembangan dunia memang penting, tetapi kita juga perlu waspada doomscrolling dan memahami batas diri dalam menerima informasi. Terus membaca berita buruk tidak selalu membuat kita lebih siap menghadapi keadaan. Dalam beberapa situasi, kebiasaan tersebut justru membuat pikiran semakin lelah tanpa memberikan pemahaman yang berarti.

Sahabat Puspita, yuk, mulai lebih bijak menggunakan media sosial. Pilih informasi yang benar-benar dibutuhkan, kenali kapan harus berhenti, dan berikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat. Dengan begitu, kita tetap bisa peduli terhadap keadaan sekitar tanpa mengabaikan kesehatan mental dan kualitas hidup sendiri.