Karhutla Kalimantan Meluas, Kesehatan Warga Terancam

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan hingga Senin (24/8/2026). Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan menjadi wilayah yang mendapat perhatian khusus karena peningkatan titik panas dan sebaran asap dalam beberapa hari terakhir.

Karhutla Kalimantan Meluas, Kesehatan Warga Terancam

Karhutla Meluas di Kalimantan Barat, Selatan, dan Tengah

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan dampak karhutla cukup luas. Berdasarkan data BPBD Kalimantan Barat, luas lahan yang terbakar sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 38.310,86 hektare. Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan luas karhutla terbesar, yakni 12.443 hektare, disusul Kubu Raya 8.614 hektare, Mempawah 6.144 hektare, dan Sambas 2.318 hektare.

Kondisi tersebut turut memicu kabut asap. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah menetapkan status siaga darurat bencana asap, sementara sejumlah kabupaten/kota juga menetapkan status siaga.

Di Kalimantan Selatan, BMKG mencatat 696 titik panas pada Minggu (23/8). Sementara itu, BPBD Kalimantan Selatan mencatat 1.651 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 6.905,67 hektare hingga 21 Agustus 2026.

Pemadaman dilakukan melalui operasi darat dan udara. Pada Minggu (23/8), dua helikopter water bombing melakukan 243 kali penjatuhan air dengan total sekitar 1,029 juta liter air.

Sementara di Kalimantan Tengah, pemantauan udara menemukan 25 titik api. Tiga helikopter dikerahkan untuk melakukan 159 kali water bombing hingga Minggu (23/8). Sekitar 10.700 personel gabungan juga dilibatkan dalam penanganan darat, sementara sekitar 55,63 hektare lahan telah ditangani.

Kalimantan Tengah bersama Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan menjadi wilayah prioritas dalam penanganan karhutla.

Karhutla Kalimantan Meluas, Kesehatan Warga Terancam

Kabut Asap Ancam Kesehatan Warga, Anak Jadi Kelompok Rentan

Dampak karhutla juga mulai dirasakan warga melalui kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah. Paparan asap dalam waktu lama dapat mengganggu kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Beberapa masalah kesehatan yang perlu diwaspadai antara lain:

  1. ISPA
    Paparan asap dapat mengiritasi saluran pernapasan anak dan memicu batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga demam.
  2. Asma
    Asap dapat memicu kambuhnya asma atau memperburuk gejala pada anak yang sudah memiliki riwayat asma, seperti sesak dan sulit bernapas.
  3. Bronkitis
    Paparan asap dapat menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan yang ditandai dengan batuk berkepanjangan, lendir, dan rasa tidak nyaman saat bernapas.
  4. Pneumonia
    Paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan pada paru-paru. Pneumonia dapat menyebabkan batuk, demam, sesak napas, dan membutuhkan penanganan medis.

Lindungi Anak dari Paparan Kabut Asap

Saat kualitas udara memburuk, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan asap, terutama pada anak-anak.

  1. Kurangi aktivitas di luar rumah
    Batasi anak bermain atau beraktivitas di luar ketika kabut asap sedang pekat.
  2. Gunakan masker saat keluar
    Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi partikel asap yang terhirup.
  3. Tutup pintu dan jendela saat asap pekat
    Usahakan asap dari luar tidak masuk ke dalam rumah. Jika memungkinkan, gunakan penyaring udara untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
  4. Perhatikan kondisi anak
    Jika anak mengalami batuk terus-menerus, sesak napas, sulit bernapas, atau kondisi tubuh menurun, segera periksakan ke fasilitas kesehatan.
  5. Perhatikan kelompok rentan
    Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan perlu mendapat perhatian lebih selama kabut asap masih menyelimuti wilayah terdampak.

Karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan masih dalam penanganan. Meski upaya pemadaman terus dilakukan, masyarakat tetap perlu mewaspadai kabut asap dan menjaga kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Baca Juga: Update Gempa NTT: Korban Capai 87 Jiwa, 6.397 Susulan