Korban Meninggal Pascagempa NTT Capai 156 Jiwa

Lebih dari sebulan setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), duka belum berhenti. Korban meninggal pascagempa NTT terus bertambah, termasuk warga yang sebelumnya selamat dari guncangan tetapi kemudian kehilangan nyawa saat berada di pengungsian.

Data BPBD Nusa Tenggara Timur per 27 September 2026 mencatat 156 orang meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sementara 108 lainnya meninggal akibat dampak tidak langsung setelah bencana.

Data per 28 September 2026 juga mencatat 24.027 warga masih mengungsi dan 1.620 orang mengalami luka atau sakit.

Kematian tidak langsung dilaporkan berkaitan dengan kondisi kesehatan penyintas, termasuk usia lanjut dan penyakit penyerta. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman bagi warga tidak berhenti ketika guncangan gempa berakhir.

Bagi mereka yang masih tinggal di pengungsian, masa setelah bencana menjadi fase panjang yang tetap membutuhkan perhatian.

Faktor Penyebab Korban Meninggal Pascagempa NTT!

Sebagian korban meninggal pascagempa merupakan kelompok rentan, terutama lansia yang telah memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, stroke, penyakit jantung, hingga gangguan pernapasan.

Di sejumlah wilayah, kondisi kesehatan warga dapat semakin menurun ketika kebutuhan dasar dan layanan kesehatan belum sepenuhnya terpenuhi. Penyintas dengan penyakit kronis tetap membutuhkan obat dan pemeriksaan rutin, sementara kondisi pengungsian dapat membuat akses terhadap layanan tersebut menjadi lebih sulit.

Dampak bencana juga tidak hanya dirasakan secara fisik. Gempa dan gempa susulan dapat meninggalkan rasa takut, trauma, hingga tekanan psikologis pada penyintas.

Karena itu, warga yang masih berada di pengungsian membutuhkan lebih dari sekadar tempat berlindung. Makanan, obat-obatan, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, serta dukungan psikososial menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Korban Meninggal Pascagempa NTT di Tengah Keterbatasan Sanitasi dan Tenda

Di sejumlah wilayah, warga masih harus bertahan di tenda darurat karena rumah mereka rusak atau tidak lagi aman untuk dihuni. Kondisi ini membuat pengungsian menjadi tempat tinggal sementara yang harus mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari warga.

Di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, misalnya, warga masih memilih tinggal di pengungsian karena khawatir terhadap kondisi rumah dan gempa susulan.

Seorang relawan kami dalam laporan yang dibagikan melalui akun Instagram @om_zeans menceritakan kondisi pengungsian yang dibuat secara sederhana. Anak-anak dilaporkan mengalami demam dan pilek, sementara ketersediaan air masih terbatas.

Keterbatasan air juga membuat kebutuhan sanitasi menjadi persoalan. Warga bahkan harus membuat fasilitas toilet sederhana karena jumlah MCK yang tersedia belum mencukupi.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan di lingkungan pengungsian. Keluhan seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan penyakit kulit menjadi perhatian ketika kebersihan, air bersih, dan sanitasi belum memadai.

Air bersih dan sanitasi bukan sekadar kebutuhan tambahan. Bagi warga yang tinggal berminggu-minggu di pengungsian, keduanya menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan dan mencegah munculnya masalah baru.

Baca Juga: Pascagempa NTT, 254 Warga Terima Penyaluran Air Bersih

Anak-Anak Juga Membutuhkan Ruang untuk Pulih

Sahabat Puspita, di tengah kebutuhan fisik yang mendesak, kondisi anak-anak juga tidak boleh dilupakan.

Anak-anak yang kehilangan rumah, melihat kerusakan akibat gempa, mengalami gempa susulan, atau harus tinggal berminggu-minggu di tenda dapat menghadapi rasa takut dan perubahan kondisi emosional.

Dalam situasi darurat, anak juga menghadapi risiko lain, seperti terpisah dari keluarga, kekerasan, penelantaran, eksploitasi, hingga masalah psikososial.

Karena itu, perlindungan anak perlu berjalan bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan dasar.

Anak-anak membutuhkan tempat yang aman untuk bermain, berinteraksi, belajar, bercerita, dan mendapatkan pendampingan. Ruang tersebut dapat membantu anak kembali mengenal rutinitas dan membangun rasa aman setelah mengalami situasi yang tidak biasa.

Dukungan psikososial bukan berarti mengesampingkan kebutuhan makanan, air bersih, tenda, atau layanan kesehatan. Semuanya saling berkaitan dalam membantu anak dan keluarga melewati masa pemulihan.

Baca Juga: Psikososial Pascagempa NTT, Sinergi Puspita Hibur Anak Flores

Masa Pemulihan Masih Membutuhkan Perhatian

Gempa mungkin telah berlalu, tetapi masa pemulihan warga masih panjang.

Bagi penyintas yang belum dapat kembali ke rumah, kebutuhan terus berkembang. Bukan hanya makanan dan tempat berteduh, tetapi juga air bersih, perlengkapan bayi, obat-obatan, fasilitas sanitasi, perlengkapan sekolah, hingga dukungan psikososial bagi anak-anak.

Akses kesehatan juga menjadi perhatian, terutama bagi warga dengan penyakit kronis yang membutuhkan obat dan pemeriksaan secara rutin.

Semakin lama warga tinggal di pengungsian, semakin penting pula memastikan tempat tersebut tetap layak dan aman untuk ditinggali.

Masa pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang rusak. Ada kesehatan warga yang perlu dijaga, anak-anak yang perlu didampingi, serta kebutuhan dasar yang harus terus dipenuhi hingga penyintas dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih aman.

Saatnya Hadir untuk Korban Gempa NTT

Sahabat Puspita, mereka yang selamat dari gempa masih membutuhkan dukungan untuk melewati masa pemulihan.

Satu tangki air bersih dapat membantu memenuhi kebutuhan warga. Fasilitas sanitasi dapat membantu menjaga kebersihan di tengah keterbatasan MCK. Kebutuhan bayi dapat meringankan keluarga yang masih bertahan di pengungsian. Sementara itu, ruang psikososial dapat menjadi tempat bagi anak-anak untuk kembali bermain dan merasa aman.

Kita mungkin tidak berada langsung di tenda pengungsian. Namun, kepedulian kita dapat menjadi bagian dari proses pemulihan mereka.

Mari bersama mendukung penyintas gempa NTT, mulai dari kebutuhan air bersih dan kebutuhan dasar hingga dukungan bagi anak-anak yang masih merasakan dampak bencana.

Klik BANTU SEKARANG dan hadirkan air bersih dan sanitasi layak untuk warga terdampak gempa NTT.

Bersama Sinergi Puspita, mari terus hadir untuk mereka yang membutuhkan.

Korban Meninggal Pascagempa NTT Capai 156 Jiwa