Masalah anak bicara kasar dan kotor kini semakin meresahkan para orang tua. Perkembangan teknologi yang pesat membuat anak-anak lebih mudah terpapar berbagai konten di internet, termasuk bahasa yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Menjawab keresahan tersebut, Sinergi Puspita menghadirkan Seri Parenting 5 bertajuk “Anak Bicara Kasar, Ibu Harus Apa?” pada Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 70 orang tua dan calon orang tua yang antusias mendalami pola pengasuhan yang tepat dalam menghadapi tantangan perilaku anak.
Pada parenting class kali ini kami menghadirkan Hanum Swandarini, M.Psi, psikolog alumni Universitas Gadjah Mada, untuk memberikan panduan kepada para orang tua dalam menyikapi perilaku anak.

Dalam pemaparannya, Bu Hanum menekankan bahwa anak yang berbicara kasar tidak selalu sepenuhnya bersalah. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi, mulai dari keterbatasan kosakata dalam mengekspresikan emosi, kurangnya komunikasi dengan orang tua, hingga tekanan pertemanan agar tidak merasa diasingkan.
“Kenali emosinya, itu harus dipahami oleh anak. Namun, perilaku tetap harus ada batasan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak langsung memarahi anak secara berlebihan. Respons yang terlalu keras justru dapat membuat anak semakin marah atau merasa tidak dipahami. Orang tua perlu menyikapi dengan sabar dan bertahap, membangun komunikasi yang lebih dalam agar anak merasa aman untuk bercerita.
Bolehkah Anak Dihukum Jika Bicara Kasar?
Terkait pemberian hukuman, Psikolog Alumni UGM ini menjelaskan bahwa anak boleh diberikan konsekuensi apabila sudah diingatkan namun tetap mengulangi kesalahan. Namun, hukuman yang diberikan tidak boleh bersifat fisik maupun verbal yang menyakiti.
Menurutnya, bentuk konsekuensi yang lebih tepat adalah membatasi kesenangan anak untuk sementara waktu, seperti mengurangi penggunaan gadget atau aktivitas favorit lainnya. Hukuman seharusnya bersifat mendidik, bukan membuat anak stres atau merasa direndahkan.
Peran Orang Tua di Tengah Pengaruh Lingkungan
Lalu bagaimana jika penyebabnya berasal dari lingkungan pertemanan atau sekolah? Bu Hanum menegaskan bahwa orang tua tidak bisa mengontrol anak orang lain. Namun, orang tua bisa memperkuat komunikasi dan nilai yang ditanamkan pada anak sendiri.
Dengan membangun kedekatan, menanamkan nilai agama, serta membiasakan diskusi terbuka di rumah, anak akan memiliki pondasi yang kuat saat bersosialisasi sehingga tidak mudah terpengaruh lingkungan negatif.
Kegiatan parenting yang diselenggarakan secara online ini terbuka untuk masyarakat luas. Hal tersebut menjadi bagian dari komitmen Sinergi Puspita dalam mendukung peran orang tua membesarkan generasi yang sehat secara emosional.
“Ilmunya bermanfaat sekali, saya akan langsung praktikkan ke anak saya. Terima kasih,” ujar Sri, salah satu peserta kelas parenting.
Belum ikut kelas parenting seri 5 ini? yuk follow Sosial Media Sinergi Puspita untuk informasi parenting class selanjutnya!
Instagram: @sinergipuspita
Facebook: Sinergi Puspita