Perfectionist Parenting, Pola Asuh Tak Sehat Untuk Anak

Ketika dukungan berubah menjadi tuntutan, pola asuh pun bergeser tanpa disadari. Di tengah maraknya postingan media sosial yang memamerkan prestasi dan pencapaian anak, banyak orangtua ikut terjebak dalam kompetisi tak terlihat. Keinginan agar anak menjadi seperti anak-anak lain yang lebih pintar, lebih sopan, lebih berprestasi bahkan terkadang berubah menjadi paksaan. Demi ego dan harapan pribadi, orangtua menuntut kesempurnaan dan lupa memberi ruang bagi anak untuk gagal, belajar, dan tumbuh sesuai prosesnya. Inilah yang dikenal sebagai perfectionist parenting.

Sabtu, 1 November lalu, Sinergi Puspita kembali mengadakan webinar seri Parenting 4.0 bersama Mba Hanum Swandarini, M.Psi., seorang psikolog, dengan tema “Perfectionist Parenting: Kenali Dampaknya bagi Anak.” Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 45 peserta dari berbagai daerah seperti Makassar, Kalimantan Timur, Malang, Surabaya, Jakarta, Bandung, dan lainnya.

Antusiasme peserta terlihat tinggi dalam menyimak tema edukatif ini. Menariknya, sesi ini juga diikuti oleh mahasiswa yang memiliki ibu perfeksionis, serta para ibu yang tumbuh dengan orang tua yang juga perfeksionis dalam mendidik anak dan meninggalkan luka emosional yang cukup dalam. Topik ini menjadi sangat relevan untuk dipahami bersama oleh para orang tua masa kini.

Tampilan Zoom meeting kelas Parenting Sinergi Puspita dengan tema Perfectionist Parenting bersama psikolog Hanum Swandarini M.Psi

Apa itu Perfectionist Parenting?

Perfectionist parenting adalah pola asuh dengan standar kesempurnaan yang sangat tinggi. Orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik, namun ketika standar yang ditetapkan tidak realistis, tekanan itu justru memicu stres berlebihan baik untuk orangtua maupun anak.

Di era media sosial, orangtua mudah terjebak dalam “perlombaan tak terlihat”: menjadi orangtua yang sempurna dengan anak yang sempurna. Tanpa sadar, kita ingin tampil ideal di mata orang lain.

Mba Hanum menyampaikan bahwa ada beberapa alasan orangtua menjadi perfeksionis dalam mengasuh, di antaranya:

  • rasa takut anak gagal,
  • pengalaman masa kecil yang penuh tuntutan,
  • keinginan kuat untuk diakui sebagai orangtua sukses.

Tanda-Tanda Pola Asuh Perfeksionis yang Sering Tak Disadari

Menjadi orangtua yang baik berbeda dengan menjadi orangtua yang sempurna. Jangan sampai ego dan ketakutan kita justru meninggalkan luka pada anak.

Dilansir dari Psychology Today, berikut tanda-tanda pola asuh perfeksionis yang sering tak disadari:

  • Selalu ingin tampil sempurna sebagai orangtua, hingga lupa menikmati momen kecil bersama anak.
  • Terlalu keras pada diri sendiri, merasa gagal hanya karena hal kecil tidak sesuai harapan.
  • Sulit memaafkan diri sendiri, sehingga kesalahan kecil memicu stres dan pikiran negatif.
  • Secara tidak sadar menjadi contoh perfeksionis, anak melihat bagaimana kita bereaksi keras saat salah.
  • Takut terlihat memiliki kekurangan, sehingga mudah menyalahkan diri atau lingkungan saat terjadi kegagalan.

Jika berlangsung terus-menerus, pola ini dapat menimbulkan overthinking, stres jangka panjang, hingga depresi pada orangtua.

Dampak Perfectionist Parenting bagi Anak

Anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tapi dari bagaimana kita bersikap terhadap diri sendiri. Ketika orangtua menuntut kesempurnaan, anak dapat merasakan tekanan yang tak terlihat. Akibatnya:

  • Cenderung jadi perfeksionis dan mudah marah
    Anak akan menuntut diri sendiri berlebihan dan mudah merasa gagal.
  • Belajar bahwa kesalahan tidak boleh terjadi
    Mereka menjadi takut mencoba hal baru dan cemas menghadapi tantangan.
  • Merasa cinta orangtua bersyarat
    Anak menganggap dirinya berharga hanya ketika berhasil.
  • Sulit menikmati proses belajar
    Fokus pada hasil, bukan perjalanan dan pengalaman.

Mba Hanum juga menambahkan, anak yang tumbuh dalam perfectionist parenting berisiko:

  • takut gagal dan menghindari tantangan,
  • menunda pekerjaan karena takut hasilnya tidak sempurna,
  • mudah cemas,
  • sulit menikmati proses tumbuh dan belajar.

Cara Menghindari Perfectionist Parenting

Setelah memahami bagaimana perfectionist parenting dapat memengaruhi anak, langkah berikutnya adalah belajar menghindarinya. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa mulai diterapkan untuk mencegah pola asuh perfeksionis dalam keseharian:

  • Akui Kesalahan
    Sadari dan akui bahwa orangtua bisa berbuat salah. Sekecil apa pun itu, seperti lupa menyiapkan bekal. Tidak perlu berpura-pura sempurna.

  • Pahami Perasaan Anda
    Perhatikan emosi yang muncul, seperti frustrasi atau rasa bersalah. Memahami perasaan ini membantu orangtua tetap tenang dan tidak membawa stres sepanjang hari.frhuu8

  • Maafkan Diri dan Lanjutkan
    Terimalah bahwa orangtua juga sedang belajar. Maafkan diri sendiri dan bergerak maju. Ayah dan Bunda bahkan bisa mengatakannya di depan anak: “Mama/Papa maafkan diri sendiri, ya.”

Tidak ada orangtua yang sempurna. Yang anak butuhkan bukan kesempurnaan, tetapi penerimaan merupakan kesempatan untuk salah, belajar, dan bangkit lagi. Karena pada akhirnya, tujuan kita bukan membentuk anak yang sempurna, melainkan anak yang percaya diri, tangguh, dan bahagia menjadi dirinya sendiri.

Sinergi Puspita percaya bahwa setiap orangtua layak mendapatkan ruang belajar dan bertumbuh, karena perjalanan menjadi orangtua adalah proses panjang yang penuh pembelajaran. Itulah mengapa seri Parenting 4.0 terus hadir untuk menemani Ayah dan Bunda memahami lebih banyak tentang tumbuh kembang, psikologi anak, dan pola pengasuhan positif.

✨ Ingin ikut sesi parenting Sinergi Puspita berikutnya?
Pantau terus informasi terbaru kami, dan jangan lewatkan kesempatan belajar bersama para ahli serta komunitas orangtua inspiratif lainnya. Yuk, tumbuh bersama menjadi orangtua yang sadar, sabar, dan penuh cinta.

Ikuti kami di media sosial:
Instagram: @sinergipuspita
Facebook: Sinergi Puspita

Sampai jumpa di sesi selanjutnya, Ayah & Bunda! 🌷💛