Sahabat Puspita, kasus keracunan makanan kembali menjadi perhatian publik, terutama setelah banyak pemberitaan mengenai keracunan massal di sekolah-sekolah. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat, hingga 29 September 2025, sebanyak 8.649 anak keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Sumber: CNN Indonesia
Angka ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan orang tua karena dampak keracunan pada anak dapat bervariasi, dari ringan hingga serius.
Menghadapi risiko ini, penting bagi kita untuk mengenali gejala keracunan makanan dan mengetahui langkah pertolongan pertama yang tepat.

Kasus Keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG)
Program MBG semakin disorot setelah ribuan anak sekolah mengalami gejala seperti muntah, mual, hingga kejang setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Kasus keracunan MBG terbaru terjadi di Kecamatan Cipongkor pada Kamis (25/9), dengan lebih dari 1.000 orang terindikasi keracunan.
Apa Itu Keracunan Makanan?
Keracunan makanan adalah gangguan kesehatan yang terjadi akibat mengonsumsi makanan yang telah tercemar oleh mikroorganisme berbahaya (seperti bakteri dan virus) atau zat beracun (toksin).
Penularan organisme berbahaya ini sering terjadi melalui makanan yang tidak diolah atau dimasak dengan sempurna (misalnya ikan mentah, telur mentah) atau yang tidak dicuci bersih.
Gejala keracunan umumnya bervariasi, namun korban biasanya akan merasakan diare, kram perut, sakit perut, mual, muntah, dan demam.
Penyebab Utama Keracunan MBG
Keracunan makanan disebabkan oleh makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh zat berbahaya, yang meliputi:
- Mikroorganisme:
- Bakteri (seperti Salmonella atau E. coli).
- Virus (misalnya Norovirus).
- Parasit yang dapat hidup di usus.
- Zat Kimia Berbahaya: Toksin yang terdapat pada makanan yang sudah basi atau berjamur.
- Kesalahan pengolahan: Tidak mencuci tangan, peralatan dapur kotor, atau penyimpanan makanan pada suhu yang salah.
Dalam kasus keracunan MBG, Kepala Dinas Kesehatan Bandung, Anhar, mengatakan bahwa hanya 11 dari 26 dapur SPPG yang sudah mendapatkan pelatihan, menandakan masih adanya masalah kebersihan dan prosedur memasak yang tidak tepat.
Efek Samping dan Komplikasi Serius Keracunan Makanan
Meskipun keracunan umumnya dapat sembuh sendiri pada orang dewasa yang sehat, kondisi ini dapat menimbulkan efek samping serius, terutama pada kelompok rentan (anak-anak, lansia, dan ibu hamil):
- Dehidrasi: Ini adalah efek samping paling umum dan berbahaya. Muntah dan diare menyebabkan hilangnya cairan dan elektrolit secara drastis. Dehidrasi parah dapat mengganggu fungsi organ vital dan mungkin memerlukan perawatan intensif seperti infus di rumah sakit.
- Komplikasi Serius (Jarang Terjadi): Dalam kondisi tubuh tertentu, infeksi dapat menyebabkan:
- Gagal Ginjal Mendadak: Disebabkan oleh penggumpalan darah pada ginjal, misalnya akibat infeksi E. coli tertentu.
- Sepsis: Bakteri menyebar ke aliran darah dan memicu peradangan parah yang merusak jaringan tubuh.
- Meningitis: Peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang.
- Komplikasi pada Kehamilan: Infeksi Listeria pada ibu hamil berisiko tinggi menyebabkan keguguran, lahir mati, atau infeksi berat (sepsis atau meningitis) pada bayi baru lahir.
Pertolongan Pertama Keracunan Makanan
Langkah awal yang paling penting saat terjadi keracunan adalah menjaga tubuh tetap terhidrasi untuk mengatasi kehilangan cairan. Berikut adalah langkah-langkah penanganan di rumah:
- Cukupi Cairan Tubuh: Segera minum air putih atau larutan elektrolit (Oralit) sedikit demi sedikit dan secara berkala.
- Konsumsi Makanan yang Tepat: Setelah mual mereda, pilih makanan ringan dan mudah dicerna seperti nasi, roti tawar, kentang rebus, atau pisang untuk meredakan kerja lambung.
- Istirahat Cukup: Istirahat total sangat krusial untuk mendukung proses pemulihan tubuh melawan infeksi.
Jika gejala memburuk, tidak kunjung reda setelah 24-48 jam, atau disertai tanda bahaya seperti demam tinggi, muntah/diare berdarah, atau dehidrasi parah, segera hubungi tenaga medis untuk mendapatkan penanganan darurat.

Upaya Sinergi Puspita Tingkatkan Kesadaran Gizi Anak
Sinergi Puspita berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran gizi anak-anak di Indonesia, terutama bagi kelompok rentan yang sering kali kurang mendapatkan informasi terkait kesehatan dan gizi.
Hal ini terlihat dalam berbagai upaya edukasi yang dilakukan, seperti pada kegiatan 30 Juli 2025 di Kampung Pemulung, kami mengajak anak-anak untuk belajar tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sejak dini. Baca: Dari Kampung Pemulung, Sinergi Puspita Tanamkan PHBS Sejak Dini
Selain itu, Sinergi Puspita juga turut mendukung penyediaan akses air bersih di pondok pesantren (ponpes) serta daerah-daerah yang minim akses air bersih. Hal tersebut berperan penting dalam meningkatkan sanitasi dan kesehatan anak-anak. Semua upaya diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan dan kualitas hidup anak-anak di Indonesia.
Mari bersama-sama kita bantu anak-anak Indonesia untuk mendapatkan gizi yang lebih baik dan hidup yang lebih sehat!