Sinergipuspita.com – Sahabat Puspita, membesarkan anak bukan hanya soal memberi makan bergizi atau menyediakan tempat tinggal yang layak. Anak juga butuh rasa aman secara emosional, mental, fisik, hingga spiritual. Namun sayangnya, tak semua orang tua menyadari pentingnya hal ini. Baik karena ketidaktahuan, pola asuh yang salah, atau luka masa kecil mereka sendiri yang belum sembuh.
Jika tidak disadari, luka-luka ini akan terus tumbuh bersama si anak hingga dewasa, bahkan bisa diwariskan ke generasi berikutnya tanpa kita sadari.
Apa Itu Luka Masa Kecil?
Luka masa kecil adalah pengalaman emosional menyakitkan atau traumatis yang dialami seseorang saat masih kecil, dan meninggalkan bekas psikologis hingga dewasa. Hal tersebut bisa berasal dari:
- pola asuh yang otoriter,
- kekerasan fisik maupun verbal,
- pengabaian, penolakan,
- kehilangan orang terdekat,
- hingga tekanan berlebihan dari lingkungan.
Inner child wound atau luka masa kecil sangat penting untuk disadari serta disembuhkan agar tidak diwariskan kembali saat anak menjadi orang tua.
Kenapa Luka Masa Kecil Terus Terasa Hingga Dewasa?
Saat anak mengalami hal yang menyakitkan, otaknya yang masih berkembang sangat sensitif dan menyerap semuanya dengan intens. Luka emosional yang tak tertangani dengan baik akan tertanam di bawah sadar, dan membentuk cara berpikir, merasa, hingga menjalin relasi saat dewasa.
Maka tak heran jika banyak orang dewasa yang masih menyimpan amarah, rasa rendah diri, atau takut ditinggalkan, hal tersebut berakar dari luka yang belum selesai di masa kecil.
Bagaimana Cara Mengobatinya?
Tidak semua orang punya masa kecil yang bahagia. Sebagian dari kita harus tumbuh dengan luka-luka yang tetap terasa hingga sekarang. Luka masa kecil ini tak akan sembuh dengan sendirinya, bahkan bisa berdampak pada fisik, relasi sosial, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.
Proses penyembuhan memerlukan self-healing—bukan hanya “me time”, tapi proses sadar untuk menyembuhkan diri secara emosional dan psikologis.
Langkah-Langkah Self-Healing Luka Masa Kecil
- Sadari dan Akui Lukanya
Langkah pertama yaitu jujur pada diri sendiri. Akui bahwa ada luka yang belum selesai. Selama kita menyangkal, penyembuhan tak akan pernah benar-benar dimulai. - Terima Masa Lalu dengan Lapang
Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi bisa memilih untuk tidak terus hidup di dalamnya. Penerimaan bukan berarti membenarkan, tapi melepaskan beban agar tidak lagi membelenggu. - Konsultasi ke Profesional
Psikolog atau terapis bisa membantu kita menemukan akar luka, memprosesnya dengan aman, dan memberikan dukungan emosional yang tepat. Jangan ragu untuk mencari bantuan.
- Lakukan Aktivitas Self-Healing
Kamu bisa memulainya dengan menulis jurnal sebagai cara untuk mengurai dan mengenali perasaan yang selama ini terpendam. Aktivitas lain seperti art therapy—melukis atau menggambar—juga dapat menjadi media ekspresi yang aman dan menyenangkan untuk menjelajahi emosi. Selain itu, membaca buku-buku bertema penyembuhan diri bisa membuka wawasan dan memberi sudut pandang baru tentang bagaimana menghadapi luka masa lalu. - Tetapkan Batasan Sehat
Belajar mengatakan “tidak” pada hal-hal yang menyakitkan, dan menjaga jarak dari lingkungan yang toksik juga bagian dari mencintai dan menyembuhkan diri sendiri.
Cegah Luka Terulang pada Anak!
Sahabat Puspita, menyembuhkan luka masa kecil bukanlah hal instan. Proses ini memerlukan keberanian, waktu, dan konsistensi. Tapi yakinlah, dengan memulainya dari diri sendiri, kita bisa memutus rantai luka yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tentu kita tak ingin anak-anak kita mengalami luka batin yang sama, bukan?
Yuk, belajar bersama bagaimana mencegah luka batin pada anak sejak dini lewat sesi spesial “Cegah Luka Batin Sejak Dini” bersama Mba Firti Yanti, seorang psikolog berpengalaman.
📆 31 Juli 2025
💬 GRATIS & Terbuka untuk Umum
📲 Segera reservasi sebelum kuota penuh!
