Waspada! Kenali Ciri-ciri Toxic Parents Sebelum Terlambat

Sinergipuspita.com – Sahabat Puspita, pernahkah kamu mendengar istilah toxic parents? Sayangnya, masih banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa pola asuh yang mereka terapkan bisa berdampak negatif bagi tumbuh kembang anak, bahkan hingga anak dewasa.

Yuk, kenali lebih dalam apa itu toxic parenting, ciri-cirinya, dan bagaimana cara menghadapinya agar kita tidak terjebak dalam pola asuh yang berpotensi menimbulkan luka batin bagi anak.

Apa Itu Toxic Parents?

Secara sederhana, toxic parents adalah orang tua yang menerapkan pola asuh yang merugikan anak. Baik secara fisik, emosional, maupun mental.

Toxic di sini merujuk pada perilaku yang tanpa disadari dapat menyakiti orang lain, bahkan meski dilakukan dengan dalih “demi kebaikan anak.”

Dalam praktiknya, toxic parenting sering kali mengabaikan kebutuhan emosi anak, memaksakan kehendak, dan minim empati. Hal ini dapat menyebabkan trauma masa kecil yang terbawa hingga dewasa.

Ciri-Ciri Toxic Parents yang Perlu Diwaspadai

Berikut beberapa tanda pola asuh toxic yang sering dijumpai:

1. Melakukan Kekerasan Fisik dan Verbal

Toxic parents kerap menggunakan kekerasan sebagai alat mendisiplinkan anak. Misalnya, memukul, menendang, atau mencekik saat emosi.
Tak hanya fisik, kata-kata kasar seperti “bodoh”, “nggak berguna”, atau “pakai otak dong!” juga bisa meninggalkan luka psikologis mendalam dan memicu depresi atau kecemasan.

2. Sering Menyalahkan Anak

Orang tua toksik cenderung menyalahkan anak atas segala hal, bahkan atas masalah yang bukan tanggung jawab mereka. Hal ini bisa mengikis kepercayaan diri dan membuat anak merasa tidak pernah cukup baik.

3. Mengontrol Hidup Anak secara Berlebihan

Toxic parents sering memaksakan kehendak, seperti memaksa anak mengikuti jalur karier tertentu atau menjalin hubungan hanya dengan orang pilihan mereka. Akibatnya, anak tumbuh tanpa kemampuan mengambil keputusan sendiri.

4. Mengabaikan Kebutuhan Emosional Anak

Ada pula tipe orang tua yang terlalu cuek dan tidak terlibat dalam kehidupan anak. Mereka cenderung tidak responsif, tidak hadir secara emosional, dan hanya fokus pada masalah mereka sendiri.

5. Terlalu Strict atau Otoriter

Sebaliknya dari yang abai, orang tua yang terlalu ketat juga bisa menjadi toksik. Mereka mengatur semua aspek kehidupan anak, dari teman bermain hingga pilihan pakaian, sehingga anak kehilangan kebebasan dan ruang berkembang.

Cara Menghadapi Toxic Parents

Menyadari bahwa memiliki orang tua toksik memang tidak mudah. Namun, mengenali dan menyikapinya dengan bijak adalah langkah awal untuk memutus rantai toxic parenting.

Berikut beberapa cara menghadapi toxic parents, menurut psikolog Saraco dan Canales:

  • Hindari Berdebat
    Jangan buang energi untuk berdebat panjang. Toxic parents biasanya tidak terbuka pada perspektif baru.
  • Lepaskan Kewajiban Menyenangkan
    Kamu tidak harus selalu menyenangkan orang tua. Prioritaskan kebutuhan dan batasan dirimu.
  • Buat Batasan yang Sehat
    Tetapkan batasan emosional, bahkan fisik jika perlu. Lindungi diri dari manipulasi dan kontrol berlebih.
  • Perkuat Diri Sendiri
    Bangun kembali harga diri dan rasa aman. Jangan biarkan dirimu dikendalikan oleh perkataan negatif mereka.
  • Jangan Takut Ditentang
    Jika mereka mencoba menggoyahkan keputusanmu, tetap teguh dan validasi dirimu sendiri.
  • Belajar Ulang Arti Cinta
    Tinggalkan definisi cinta yang menyakitkan. Pelajari kembali cinta yang sehat agar kamu bisa membangun relasi yang lebih baik ke depan.

Sinergi Puspita Ajak Parents Belajar Cegah Luka Batin Anak

Toxic parenting dapat meninggalkan luka batin mendalam yang terbawa hingga anak tumbuh dewasa dan menjadi orang tua. Jika tidak disadari dan diperbaiki, luka ini bisa diwariskan kembali ke generasi berikutnya.

Untuk itu, Sinergi Puspita mengajak Ayah dan Bunda untuk belajar bersama Mba Firti Yanti, seorang psikolog, dalam sesi spesial bertema “Cegah Luka Batin Sejak Dini” pada 31 Juli 2025.

GRATIS!
📌 Terbuka untuk umum
📲 Reservasi sekarang sebelum kuota penuh!

Sinergi Puspita ajak parents belajar bersama