Dalam rangka memperingati Hari Guru, Sinergi Puspita ingin berkontribusi dengan memberikan paket sembako untuk para guru ngaji. Di kesempatan kali ini, kami bertandang ke sebuah desa kecil bernama Padurenan. Dimana masyarakatnya dikenal dengan kehidupan yang sangat sederhana namun penuh kekeluargaan.
Kami mengunjungi dan bersilaturahmi ke sebuah tempat belajar anak-anak mengaji disana yaitu TPA Majlis Arrohim. Pendiri TPA merupakan tokoh masyarakat yang sangat dihormati, yang bernama Ustadz Misra. Seorang guru ngaji yang dengan tulus mendidik anak-anak dan remaja tentang ilmu agama. Beliau mengajarkan dengan penuh keikhlasan yang sangat besar dan kesabaran yang mendalam untuk menghadapi anak-anak yang memiliki perbedaan karakter dan sifat.
Meskipun sangat sulit bagi beliau dan guru-guru lain dalam menghadapi dinamika tersebut, beliau tidak meminta sedikit pun imbalan dari murid-muridnya. Bahkan membangun segala infrastruktur yang ada, hanya dengan mengandalkan rezeki pribadi dan gotong royong masyarakat.

Alhamdulillah sahabat, atas amanah yang diberikan, kami pun menyalurkan paket sembako tersebut kepada para guru ngaji disana. Setiap paket berisi beras, minyak goreng, gula, mie instan, dan beberapa kebutuhan pokok lainnya. Kami menyusun rencana untuk menyerahkan paket tersebut secara langsung kepada para guru ngaji, termasuk Ustaz Misra. Dan qodarullah kami membagikan 4 sembako itu pada tanggal 8 Desember 2024 bertepatan dengan peresmian sumur bor di kediaman Ustadz Misra yang lebih tepatnya di TPA Majlis Arrohim.

Paket sembako yang diberikan kepada para guru ngaji merupakan tanda terima kasih atas dedikasi nya mengajarkan ilmu agama.
Ketika mendapatkan paket sembako tersebut, Ustadz Misra terlihat terharu dan berujar. “Masya Allah, ini sangat berarti. Terima kasih banyak, semoga Allah membalas kebaikan kalian.”
Setelah menyerahkan paket, kami pun berfoto bersama lalu berpamitan dengan anak-anak, dan kepada guru-guru TPA Majlis Arrohim.
Hari itu, suasana desa Padurenan dipenuhi rasa haru dan syukur. Para guru ngaji merasa dihargai, sementara kami, para pemuda merasa puas telah bisa berbagi kebahagiaan. Kami belajar bahwa kebaikan sekecil apa pun bisa memberikan dampak besar bagi orang lain.
Akhir cerita, paket sembako itu menjadi simbol kasih sayang antara kami dengan para guru ngaji, menguatkan tali silaturahmi dan rasa saling peduli di desa tersebut.