Karhutla Usai? Lalu, Bagaimana Kondisi Para Korban Terdampak?

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggalkan persoalan yang tidak serta-merta selesai ketika api mulai padam. Di sejumlah wilayah, masyarakat masih harus menghadapi dampak kebakaran yang mengganggu kesehatan, merusak lingkungan, hingga menyulitkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Sepanjang 2026, karhutla terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Kalimantan Tengah menjadi beberapa wilayah yang mencatatkan kebakaran dengan luasan terdampak cukup besar. Kebakaran tidak hanya menghanguskan lahan hutan, tetapi juga mengancam lahan pertanian dan sumber penghidupan masyarakat.
Meski upaya pemadaman terus dilakukan, perkembangan pada 28 Oktober 2026 menunjukkan bahwa kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah Papua. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 2.393 hektare lahan terbakar di Papua Barat Daya, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Sebanyak 73 titik panas juga terpantau di wilayah Papua dalam pemantauan 12 jam terakhir.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla masih berlangsung. Namun, ada persoalan lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Ketika api mulai mereda, bagaimana kondisi masyarakat yang selama ini harus bertahan di tengah kebakaran dan kabut asap?
Ketika Api Mereda, Dampaknya Masih Dirasakan
Dampak karhutla tidak selalu berakhir bersamaan dengan padamnya api. Asap yang tersisa, kerusakan lahan, hingga hilangnya sumber penghidupan dapat memengaruhi kehidupan masyarakat dalam waktu yang tidak singkat. Setidaknya, ada beberapa persoalan yang masih perlu menjadi perhatian.
1. Kesehatan Masyarakat Masih Terancam
Salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap. Asap hasil pembakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus, termasuk PM 2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.
Paparan partikel tersebut berisiko menimbulkan gangguan pernapasan, terutama bagi balita, anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan rentan.
Kementerian Kesehatan mencatat akumulasi sebanyak 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di berbagai wilayah terdampak karhutla. Angka ini menjadi perhatian karena anak-anak termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan akibat buruknya kualitas udara.
Bagi anak-anak, dampaknya bukan hanya dirasakan ketika mereka mengalami batuk atau sesak napas. Aktivitas sehari-hari, waktu bermain, hingga kegiatan belajar juga dapat terganggu ketika udara di sekitar tempat tinggal belum kembali aman.
2. Lahan Pertanian dan Sumber Penghidupan Terganggu
Karhutla juga berdampak langsung terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Kebakaran yang meluas ke lahan pertanian dan perkebunan dapat menghanguskan tanaman yang selama ini menjadi sumber pangan maupun penghasilan keluarga.
Ketika lahan rusak, petani membutuhkan waktu dan biaya untuk kembali mengolah tanah. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan harus kehilangan sumber pendapatan untuk sementara waktu.
Persoalan ini semakin berat ketika kebakaran turut memengaruhi ketersediaan air bersih. Sebagian masyarakat di wilayah terdampak harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal, air bersih dibutuhkan untuk memasak, minum, menjaga kebersihan, serta mendukung kesehatan keluarga.
Artinya, pemulihan setelah karhutla tidak cukup hanya dengan memastikan lahan tidak lagi terbakar. Masyarakat juga membutuhkan dukungan agar dapat kembali memenuhi kebutuhan dasar dan memulihkan sumber penghidupannya.
3. Kerusakan Lingkungan dan Habitat Satwa
Dampak karhutla juga dirasakan oleh satwa liar yang bergantung pada kelestarian hutan dan lahan basah. Di Papua, kebakaran mengancam habitat berbagai satwa endemik, termasuk burung-burung yang menjadikan kawasan hutan dan rawa sebagai tempat mencari makan, berlindung, serta berkembang biak.
Salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian adalah Taman Nasional Wasur di Merauke. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, kawasan seluas sekitar 431.425 hektare ini menjadi habitat bagi 403 spesies burung, termasuk 74 spesies endemik Papua dan 114 spesies yang dilindungi. Kawasan tersebut juga menjadi tempat singgah ribuan burung migran dari Australia dan Selandia Baru.
Dalam laporan CNN Indonesia pada 5 November 2026, kebakaran hutan disebut berisiko menghilangkan tempat berlindung, bersarang, dan mencari makan bagi satwa. Dampaknya tidak berhenti pada hewan yang berada di sekitar titik kebakaran. Perubahan vegetasi dan kondisi perairan juga dapat mengganggu organisme kecil yang menjadi bagian dari rantai makanan.
Artinya, ketika api mulai mereda, pemulihan lingkungan masih membutuhkan waktu. Habitat yang rusak tidak bisa langsung kembali seperti semula. Upaya pemantauan dan pemulihan ekosistem menjadi penting agar satwa liar dapat kembali memperoleh ruang hidup yang aman.
Pulihan Masyarakat Membutuhkan Kepedulian Bersama
Ketika perhatian mulai beralih dari proses pemadaman, kondisi masyarakat yang terdampak tetap perlu mendapat perhatian. Kehilangan kebun, kesulitan memperoleh air bersih, hingga gangguan kesehatan merupakan persoalan yang dapat memengaruhi kehidupan keluarga dalam waktu cukup lama.
Anak-anak membutuhkan lingkungan yang sehat untuk kembali belajar dan bermain. Sementara itu, keluarga membutuhkan akses terhadap air bersih dan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan pun memerlukan dukungan agar dapat kembali menjalani aktivitasnya.
Pemulihan pascakarhutla bukan hanya tentang mengembalikan kondisi lingkungan, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali memenuhi kebutuhan dasar dan menjalani kehidupan dengan layak.
Sahabat Puspita, kepedulian terhadap masyarakat terdampak karhutla masih dibutuhkan, meskipun api mulai mereda. Dukungan yang diberikan dapat membantu meringankan beban warga, mulai dari memenuhi kebutuhan dasar hingga mendukung pemulihan kehidupan keluarga.
Melalui donasi bersama Sinergi Puspita, Sahabat dapat turut mengambil bagian dalam kepedulian bagi masyarakat yang masih berjuang menghadapi dampak karhutla. Sekecil apa pun dukungan yang diberikan, semoga dapat menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
Sebab, bagi masyarakat terdampak, perjuangan belum selesai hanya karena api telah padam.


